Senin, 11 Mei 2015

Anak yang mempunyai rasa tanggung jawab besar terhadap ibunya



Di ulas dari sebuah kisah cerita yang mungkin patut kita tanamkan di dalam diri  kita ini,disini saya akan menceritakan seorang anak harus bertahan hidup demi memberi nafkah orang tuanya yang sedang lumpuh. karena si anak ini mempunyai  tekad dan rasa tanggung jawab yang sangat besar dia rela mengemis dari pagi sampai malam hanya untuk mengobati ibunya yang sedang sakit lumpuh itu ke rumah sakit ya mungkin harus mempunyai uang yang tidak sedikit dan mendapatkan uang pun tidak sangatlah mudah bagi anak kecil ini,kasihan sekali ya melihatnya saja saya tak tega melihat anak ini berjuang keras  hingga ingin orangtuanya bisa sembuh dari sakitnya itu.
Nah coba bayangkan kalo kita ada di posisi mereka pasti kita sedih setiap hari memikirkan kesembuhan ibunya siapa sih yang tidak mau melihat ibunya sembuh dari sakitnya.maka dari itulah rasa tanggung jawab seorang anak kepada ibunya dihari esok saat seorang ibu sudah menjadi nenek sekarang ibu itu adalah tanggung jawab dari putra dan putrinya


DOA ADALAH KUNCI KITA MERAIH KESUKSESAN

Setiap manusia di dunia ini tentu mempunyai pandangan hidupnya masing-masing yang perlu dipersiapkan secara rinci sejak dini agar dapat terlaksana sesuai dengan harapan pada waktu yang tepat. Pandangan hidup sendiri bersifat kodrati, yang telah diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia. Adapun pengertian pandangan hidup itu adalah pendapat  ataupun pertimbangan yang dijadikan sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petujuk hidup di dunia agar dapat menjalani hidup yang lebih baik lagi dengan adanya pandangan hidup tersebut. Pendapat atau pertimbangan di sini merupakan hasil pemikiran manusia itu sendiri yang berdasarkan pengalaman hidup atau sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Pada dasarnya, pandangan hidup mempunyai empat unsur yang saling terkait satu sama lain yang tidak dapat terpisahkan, yaitu cita-cita, kebijakan, usaha, dan keyakinan atau kepercayaan. Yang dimaksud dengan cita-cita adalah apa yang ingin dicapai dengan usaha atau perjuangan yang akan ditempuh untuk mendapatkannya. Tujuan yang ingin dicapai adalah kebajikan. Kebajikan adalah segala sesuatu hal yang baik yang dapat manusia itu bahagia, makmur dan tentram. Usaha atau perjuangan yaitu kerja keras yang dilandasi oleh kepercayaan dan keyakinan. Keyakinan atau kepercayaan itu dapat diukur dengan  kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Sepertinya halnya kita mempunyai keinginan yang lebih dari diri kita ,entah itu keinginan untuk maju dan mengejar cita-cita maupun pandangan untuk kehidupan agar kelak nantinya menajdi hidup yang lebih sukses dan sempurna, oleh karena itu hidup dan matinya manusia yang menentukan dan yang menjawabnya bukanlah kita sendiri tetapi Allah Swt yang berkehendak. Maka dari itu manusia hanya bisa berdoa dan berusaha meyakini bahwa kesuksesan tanpa adanya doa itu tidak bakalan sempurna.

Saya mempunyai contoh orang yang sedang  berdoa :

Seperti gambar di atas Bpak.Susilo Bambang Yudoyono ini tidak luput dari Doa ketika beliau sedang di komentar oleh wartawan.maka inilah  contoh bagi kami semu agar bisa mengingat untuk harus tetap berdoa dimanapun dan kapanpun.

KEADILAN DI INDONESIA SAAT INI KURANG DI PERHATIKAN OLEH NEGARA

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrim yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

Berbagai Macam Keadilan
1.    1..Keadilan legal atau keadilan moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal
2.   2.  Keadilan distributive
Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).
3.     3. Keadilan komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat

Coba kita perhatikan apakah ini adil :


 Jika saya simpulkan dalam gambar diatas apakah layak dan sepantasnya masyarakat menyekolahkan anaknya di tempat seperti ini, jika saya sedikit menceritakan Negara kita ini sangatlah tidak memperdulikan rakyatnya sendiri,melainkan mementingkan kehidupanya masing-masing. Maka dari itu di Negara kita Juga mempunyai keadilan tetapi pemerintah menganggap kalau di Indonesia belum dapat mewujudkan keadilan untuk rakyat sesamanya.
Masalah bangsa ini adalah penegakan hukum dan keadilan bersifat sangat rendah,
"Masalah utama bangsa ini adalah penegakan hukum dan keadilan, termasuk pemberantasan korupsi mewujudkan reformasi birokrasi pemerintah, menetukan arah kebijakan pembangunan yang jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan yang terkonsntrasi di Pulau Jawa yang sudah melampaui daya dukung. ,tidak tercapainya cita-cita suatu bangsa dalam menciptakan kemerdekaan yang seutuhnya, bisa dilihat dalam penegakan hukum di republik ini. Saya menilai penegakan hukum di Republik ini belum sepunuhnya dikatakan adil, begitu juga di sektor lainnya seperti masalah sosial ekonomi dan lain-lain. "Keadilan belum adil di Indonesia, baik dalam norma hukum atau dalam masalah sosial ekonmomi masyarakat. Kita semua tahu bahwa lembaga penegakan hukum mulai dari kepolisian, kejaksaan, maupun pengadilan sulit untuk diharapkan.







:

Anak kecil mengemis di Lampu merah

Penderitaan adalah bahasa yang sering kita dengar. Penderitaan berasal  dari kata derita.Kata derita berasal dari bahasa Sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. penderitaan bisa bersifat lahir dan bersifat batin. Setiap manusia memiliki penderitaan yang berbeda –beda. Manusia dikatakan menderita apa bila dia memiliki masalah, depresi karena tekanan hidup, dan lain lain.
   Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Akibat penderitaan yang bermacam-macam. Ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak bermanfaat.  Penderitaan juga dapat ‘menular’ dari seseorang kepada orang lain, apalagi kalau yang ditulari itu masih sanak saudara.
     Menurut agama penderitaan itu adalah teguran dari tuhan. Penderitaan ada yang ringan dan berat contoh penderitaan yang ringan adalah ketika seseorang mengalami kegagalan dalam menggapai keinginannya. Sedangkan contoh dari penderitaan berat adalah ketika seorang manusia mengalami kejadian pahit dalam hidupnya hingga ia merasa tertekan jiwanya sampai terkadang Ingin mengakhiri hidupnya.
    Penderitaan adalah termasuk realitas manusia di dunia. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan.Suatupristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Penderitaan adalah bagian dari kehidupan.

Contoh yang saya ketahui bahwa penderitaan itu tidak hanya orang dewasa saja yang mengalaminya melainkan anak kecil yang masih belia ini :


kasihan sekali ya melihatnya saja terharu begini,anak yang masih belia dan kecil ini sudah mencari uang di jalanan,tak sepatutnya anak kecil di perlakukan seperti ini, hal yang menyebabkan anak-anak menjadi pengemis dan meminta itu ya di karenakan faktor  kehidupan per ekonominya kurang.
Saya kaitkan kejadian dari cerita saya,pada saat saya ingin berangkat ke kampus , saya melihat ada seorang anak kecil yang  meminta-minta atau pun mengemis di Lampu merah,saya langsung berfikir kenapa anak sekecil itu meminta-minta dan mengemis ,kenapa seumuran dia tidak sekolah dan tidak bermain seperti layaknya anak” biasa , dia yang selalu mencari uang dan mencari uang yang dia fikirkan bagaimana bisa makan untuk menghidupi keluarganya, dalam benak saya apa kedua orang tuanya tidak kasihan melihat anaknya mencari uang dari pagi hingga sore dan belum pula dia kehujanan apa kedua orang tuanya tidak memikirkan anaknya itu.  Kalo jadi saya biarkan saya yang mencari uang dengan cara hal apapun.

Pemahaman keindahan batu akik di mata masyarakat

Keindahan berasal dari kata indah. Keindahan yang berarti sesuatu yang baik, menyenangkan, ilmu yang indah, kebajikan yang indah atau sebagai bentuk yang indah. Keindahan sangat berhubungan erat dengan manusia, seni, keserasian, kehalusan. Kata orang tanpa ada keindahan adalah manusia yang mati sebelum waktunya. Bisa jadi, karena keindahan adalah pelengkap hidup manusia.
Menurut saya keindahan itu tidak hanya dari seni,keserasian,dan kehalusan melainkan dari alam, banyak contohnya keindhan dari alam seperti batu akik yang di gandrungi oleh masyarakat saat ini, nah darimanakah asal batu akik tersebut, batu akik di dapatkan di dalam Goa-goa dekat dengan Gunung.
Contohnya seperti ini :


Dalam batu akik juga mempunyai keindahan yang membuat anda tergiur akan mendapatkan batu tersebut contohnya seperti batu akik pancawarna yang sedang marak di perbincangkan oleh kalangan pecinta batu akik,batu akik ini mempunyai tingkat keindahan yang sangat  luar biasa seperti warna batunya yang bermacam-macam. 

Saya mempunyai contoh nya yaitu :


dalam kehidupan setiap manusia memandang keindahan itu dengan berbagai macam cara. ada yang memandang seni  batu akik itu adalah seni yang menjiwai sangat tinggi keindahanya ada juga yang menilai itu adalah hal yang norak(kuno) dan tidak layak untuk di kagumi dalam pencinta batu.
dalam pandangan manusia terhadap keindahan dapat dilihat bahwa manusia dapat saja menyalah artikan keindahan itu sebagai sesuatu karya seni misal saja pembangunan villa yang sangat bagus dan indah di puncak. menurut yang membangun villa itu sangatlah indah tetapi apakah menurut orang lain villa itu indah atau bahkan menurut orang lain villa itu sangat jelek dan rusak karena merusak keindahan alam sekitar dan menjadikan tempat itu rusak. bisa saja keindahan menurut padngan orang itu berbeda beda tergantung si orang itu melihat dari sudut mana keindahan itu di lihat.

Rabu, 29 April 2015

“Uang tidaklah berarti apa-apa ketimbang kasih sayang terhadap anak”

Disini diceritakan seorang anak kecil yang selalu rindu sikap kasih sayang terhadap ayahnya, ayahnya itu sangat sibuk sekali dengan pekerjaanya sehinga lupa yang seharusnya anak seumur dia itu di perhatikan dan diberi kasih sayang yang lebih oleh  ayanhnya, tetapi ini berbeda dengan anak-anak lainya . langsung saja sebut namanya “Jeny” ketika Jeny ingin sarapan pagi bersama ke-2 orang tuanya ,nah disitu ayahnya Jeny di Telpon oleh orang kantor di suruh bekerja tepat waktu,hingga akhirnya ayahnya Jeny meninggalkan meja makan dan bergegas pergi ke kantor yang tadinya ingin sarapan bersama Jeny dan akhirnya ada telpon dari orang kantor, setelah itu Jeny juga meninggalkan meja makan karena melihat ayahnya meninggalkan meja makan tersebut, hari pun sudah  siang dan  pintu rumah dibuka ,ternyata Jeny sudah pulang sekolah ,kemudian dia masuk rumah dan menanyakan kepada Ibunya yang sedang santai dan membaca majalah distu Jeny bertanya “Ibu apakah ayah sudah pulang” kemudian Ibunya menjawab “blum nak ayah belum pulang mungkin sore nanti. Jeny dengan senag hati “Hore aku bisa main sama papah dong mah”, kata-kata senag itu terucap dari anak ini.
Setelah waktu berjalan dengan sangat cepat, hingga menunjukan pukul  8 malam, ayahnya  Jeny belum pulang juga ,dan akhirnya Jeny menemui Ibunya yang sedang menonton TV di ruang tamu, Jeny pun bertanya lagi kepada Ibunya menanyakan ayahnya yang belum pulang .kemudian Ibunya Jeny menyuruh Jeny tidur duluan karena alasanya takut anaknya nanti pagi dia telat kesekolah dan di marahi oleh gurunya,kemudian Jeny meninggalkan ibunya sendiri dan bergegas untuk tidur disitu Jeny menaruh rasa kekecewaan. Setah pagi jam 4 subuh ayahnya Jeny  sudah bergegas kembali untuk pegi bekerja, tanpa sepengetahuan Jeny alasan ayahnya pergi pagi-pagi itu karena ada proyek besar jadinya berangkat pagi-pagi, seketika Ibunya Jeny menanyakan tentang Janji Jeny kepada Ayahnya langsung saja pergi begitu saja. setelah itu Jeny bangun pagi dan bergegas untuk sarapan pagi dahulu sebelum berangkat kesekolah ,dan diselah-selah makan Jeny menanyakan ayahnya “ Ibu ayah kemana,kok gak ikut sarapan bareng Jeny” kemudian ibunya menjawab “tadi ayahmu pergi masih subuh” dan Jeny meng iyahkan begitu saja dengan wajah di tekuk kebawah. Setelah itu Jenypun bergegas pergi kesekolah, seketika terkejut terdiam dan termenung di tengah perjalanan Jeny melihat seorang anak yang sedang asik bermain bersama kedua orang tuanya dan di situlah Jeny termenung. Hari mulai siang seperti biasa Jeny pulang kerumahnya dengan wajah sedih dan selalu saja Jeny menanyakan ayahnya kepada Ibunya “ibu ayah sudah pulang” ibunya menjawab “belum nak” kemudian Jeny mengiahkannya saja. ketika ibu Jeny menyusul ke kamarnya, Ibun Jeny menanyakan tentang perkembangan sekolahnya kepada Jeny, Jeny pun yang menaggapi ibunya bicara seperti orang yang sedih Kemudian Jeny bertanya kepada ibunya”Mah kenapa sih ayah kerja terus aku kan pengen seperti anak-nak yang lainya bisa main-main sama ayahnya dan bisa jalan-jalan sama ayahnya” kemudian ibunya menjawab dengan alasan Ayahnya kerja untuk masadepan Jeny.dan pada malam itupun Jeny tidak bisa tidur dan dia masih memikirkan ayahnya di tempat tidurnya,kemudian seketika Jeny yang sedang membayangkan ayahnya melihat sebuah Celengan Ayam yang berada di kamarnya di pecahkan entah untuk membeli apa. Setelah itu Jeny tertidur di sopa dan ditanyakan oleh ibunya, knpa alasan jeny tidur di sopa,jeny berkata dia tidur di sopa karena menunggu ayahnya pulang kerja.setelah itu Jeny menunggu ayahnya di sopa hingga larut malam tetap saja jeny menunggu ayahnya, dan tanpa ayahnya sadari ketika pitu rumah dibuka Ayahnya Jeny langsung terkejut melihat jeny belum tidur ,kemudian Jeny bertanya kepada ayahnya” Ayah kenapa ayah baru pulang” Ayahnya menjawab “Ayah banyak kerjaan di kantor” ,kemudian jeny menanyakan sesuatu kepada ayahnya tentang gaji penghasilan ayahnya kemudian Jeny berbicara dan iya ingin meminta Uang 5000 untuk membeli mainan namun tetap saja Jeny ngotot ingin meminta uang tersebut dan pada akhirnya ayah Jeny memarahi Jeny karena ngotot Jeny ingin meminta uang pada saat malam itu juga, setelah kejadian itu Jeny langsung pergi ke kamar tidur. Setelah jeny di kamar tidur Ayahnya menghampiri jeny dan ayahnya jeny meminta maaf karena dia tadi sudah memarahinya. Jeny langsung terbangun setelah mendengar perkataan maaf dari ayahnya dan dia bilang kepada ayahnya” Jeny tadi meminta uang sebenarnya bukan untuk membeli mainan tetapi alasan jeny ia ingin membeli waktu ayahnya yang selalu kerja tanpa tiada hentinya bahkan tidak pernah memberikan kasih sayang kepada anaknya. keinginan Jeny iyalah supaya Ayahnya selalu memberikan waktu untuk Jeny bermain dengan ayahnya.
Kesimpulannya

Kalo punya anak itu harus di perhatiakan dan sesibuk apapun kita dengan kerjaan kita, kita tetap mengingatnya dan sesekali mengajak anak-anak untuk bermaian ataupun liburan,supaya anak-anak kita tidak jenuh dengan sikap orangtuanya.  

Selasa, 31 Maret 2015

Sejarah Wayang Kulit dari mulai abad pertama hingga saat ini

Contoh gambar wayang kulit  pada jaman dahulu :

 Wayang adalah salah satu kesenian yang telah ada di Indonesia sejak ajaran Hindhu masih tersebar di seluruh Nusantara. Wayang sendiri mengambil tokoh-tokoh dewa maupun ksatria yang ada dalam agama Hindhu dari India. Wayang di Indonesia tersebar dalam beberapa versi sesuai dengan daerah, sebagai contoh Wayang Ringgit, Wayang Uwong dari Jawa, Wayang Golek dari Sunda dan Jawa Barat, Wayang Bali dari Bali, Wayang Palembang dari Sumatra Selatan, Wayang Sasak dari Nusa Tenggara Barat, baik Wayang Cina yang berasal dari Cina yang diadopsi dan berkembang pesat di masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.
Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.

Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”
Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.
Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.
Akan tetapi hidup wayang kulit saat ini sudah memprihatinkan. Meskipun hidup, seolah telah kehilangan “roh-nya”. Tengok saja di Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Solo, pertunjukan wayang kulit mulai jarang. Acara-acara hajatan, maupun perayaan tidak lagi menanggap wayang kulit. Namun menanggap dangdut, atau jenis musik yang lain.
Saat ini untuk pertunjukan wayang sendiri memang kurang diminati oleh masyarakat kita, karena banyak pilihan hiburan lain. Mungkin wayang kulit mereka anggap membosankan. Seolah wayang kulit sudah memasuki masa sekarat.
Berbeda dengan tahun 1950-an, ketika wayang kulit masih rutin naik panggung Taman Hiburan Rakyat Sriwedari Solo. Saat itu masih banyak masyarakat yang berbondong-bondong menontong wayang kulit sampai pagi. Mereka sangat menikmati salah satu seni khas  tradisional jawa ini.
Bahkan tidak sedikit masyarakat yang hafal cerita wayang, baik cerita Bharatayuda, maupun cerita Ramayana. Tokoh-tokoh punakawan menjadi bintang hiburan kala itu.
Akan tetapi seiring berkembangnya jaman, kemajuan teknologi, informasi, dan hiburan. Membuat beberapa kesenian tradisional Indonesia tak dilirik lagi oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah kesenian wayang kulit. Tak banyak lagi yang menggandrungi kesenian tradisional ini. Terlebih melestarikannya dengan mempelajari kesenian yang berasal dari kulit ini.


Di kalangan masyarakat, wayang adalah bukan hal yang asing. Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan, dari waktu ke waktu, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini.Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara hiburan yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, berbagai unsure seni, serta unsur pendidikan yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.
Filsafat pewayangan membuat masyarakat sebagai penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono dalam Mulyana: 2008). Keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi.
Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.
Dalam hal ini telah jelas, sebagai manusia yang berbudaya, bangsa Indonesia menganggap wayang sebagai bagian dari kehidupan yang bernilai tinggi dan luhur. Bagi kelangsungan eksistensi wayang ini, paling tidak, ada tiga hal yang perlu dicermati dalam kehidupan publik. Pertama, sikap dan pandangan hidup pragmatis telah dianut oleh sebagian besar masyarakat.
Kedua, implikasi dari realitas ini tidak hanya diterapkan dalam perilaku ekonomi dan politik, tetapi juga dalam memilih bentuk kesenian dan kebudayaan. Ketiga, akibat selanjutnya adalah budaya massa dan budaya populer menjadi kiblat mayoritas publik.
Wayang adalah salah satu kesenian yang telah ada di Indonesia sejak ajaran Hindhu masih tersebar di seluruh Nusantara. Wayang sendiri mengambil tokoh-tokoh dewa maupun ksatria yang ada dalam agama Hindhu dari India. Wayang di Indonesia tersebar dalam beberapa versi sesuai dengan daerah, sebagai contoh Wayang Ringgit, Wayang Uwong dari Jawa, Wayang Golek dari Sunda dan Jawa Barat, Wayang Bali dari Bali, Wayang Palembang dari Sumatra Selatan, Wayang Sasak dari Nusa Tenggara Barat, baik Wayang Cina yang berasal dari Cina yang diadopsi dan berkembang pesat di masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.
Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.

Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”
Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.
Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.
Akan tetapi hidup wayang kulit saat ini sudah memprihatinkan. Meskipun hidup, seolah telah kehilangan “roh-nya”. Tengok saja di Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Solo, pertunjukan wayang kulit mulai jarang. Acara-acara hajatan, maupun perayaan tidak lagi menanggap wayang kulit. Namun menanggap dangdut, atau jenis musik yang lain.
Saat ini untuk pertunjukan wayang sendiri memang kurang diminati oleh masyarakat kita, karena banyak pilihan hiburan lain. Mungkin wayang kulit mereka anggap membosankan. Seolah wayang kulit sudah memasuki masa sekarat.
Berbeda dengan tahun 1950-an, ketika wayang kulit masih rutin naik panggung Taman Hiburan Rakyat Sriwedari Solo. Saat itu masih banyak masyarakat yang berbondong-bondong menontong wayang kulit sampai pagi. Mereka sangat menikmati salah satu seni khas  tradisional jawa ini.
Bahkan tidak sedikit masyarakat yang hafal cerita wayang, baik cerita Bharatayuda, maupun cerita Ramayana. Tokoh-tokoh punakawan menjadi bintang hiburan kala itu.
Akan tetapi seiring berkembangnya jaman, kemajuan teknologi, informasi, dan hiburan. Membuat beberapa kesenian tradisional Indonesia tak dilirik lagi oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah kesenian wayang kulit. Tak banyak lagi yang menggandrungi kesenian tradisional ini. Terlebih melestarikannya dengan mempelajari kesenian yang berasal dari kulit ini.


Di kalangan masyarakat, wayang adalah bukan hal yang asing. Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan, dari waktu ke waktu, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini.Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara hiburan yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, berbagai unsure seni, serta unsur pendidikan yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.
Filsafat pewayangan membuat masyarakat sebagai penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono dalam Mulyana: 2008). Keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi.
Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.
Dalam hal ini telah jelas, sebagai manusia yang berbudaya, bangsa Indonesia menganggap wayang sebagai bagian dari kehidupan yang bernilai tinggi dan luhur. Bagi kelangsungan eksistensi wayang ini, paling tidak, ada tiga hal yang perlu dicermati dalam kehidupan publik. Pertama, sikap dan pandangan hidup pragmatis telah dianut oleh sebagian besar masyarakat.
Kedua, implikasi dari realitas ini tidak hanya diterapkan dalam perilaku ekonomi dan politik, tetapi juga dalam memilih bentuk kesenian dan kebudayaan. Ketiga, akibat selanjutnya adalah budaya massa dan budaya populer menjadi kiblat mayoritas publik.

Wayang adalah salah satu kesenian yang telah ada di Indonesia sejak ajaran Hindhu masih tersebar di seluruh Nusantara. Wayang sendiri mengambil tokoh-tokoh dewa maupun ksatria yang ada dalam agama Hindhu dari India. Wayang di Indonesia tersebar dalam beberapa versi sesuai dengan daerah, sebagai contoh Wayang Ringgit, Wayang Uwong dari Jawa, Wayang Golek dari Sunda dan Jawa Barat, Wayang Bali dari Bali, Wayang Palembang dari Sumatra Selatan, Wayang Sasak dari Nusa Tenggara Barat, baik Wayang Cina yang berasal dari Cina yang diadopsi dan berkembang pesat di masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.
Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.


Jenis-jenis Wayang yang ada di Indonesia :
 >Wayang Golek Khas Jawa Barat


>Wayang Golek Khas Pulau Jawa


>Wayang Golek Khas Bali


Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”
Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.
Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.
Akan tetapi hidup wayang kulit saat ini sudah memprihatinkan. Meskipun hidup, seolah telah kehilangan “roh-nya”. Tengok saja di Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Solo, pertunjukan wayang kulit mulai jarang. Acara-acara hajatan, maupun perayaan tidak lagi menanggap wayang kulit. Namun menanggap dangdut, atau jenis musik yang lain.
Saat ini untuk pertunjukan wayang sendiri memang kurang diminati oleh masyarakat kita, karena banyak pilihan hiburan lain. Mungkin wayang kulit mereka anggap membosankan. Seolah wayang kulit sudah memasuki masa sekarat.
Berbeda dengan tahun 1950-an, ketika wayang kulit masih rutin naik panggung Taman Hiburan Rakyat Sriwedari Solo. Saat itu masih banyak masyarakat yang berbondong-bondong menontong wayang kulit sampai pagi. Mereka sangat menikmati salah satu seni khas  tradisional jawa ini.
Bahkan tidak sedikit masyarakat yang hafal cerita wayang, baik cerita Bharatayuda, maupun cerita Ramayana. Tokoh-tokoh punakawan menjadi bintang hiburan kala itu.
Akan tetapi seiring berkembangnya jaman, kemajuan teknologi, informasi, dan hiburan. Membuat beberapa kesenian tradisional Indonesia tak dilirik lagi oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah kesenian wayang kulit. Tak banyak lagi yang menggandrungi kesenian tradisional ini. Terlebih melestarikannya dengan mempelajari kesenian yang berasal dari kulit ini.


Di kalangan masyarakat, wayang adalah bukan hal yang asing. Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan, dari waktu ke waktu, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini.Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara hiburan yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, berbagai unsure seni, serta unsur pendidikan yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.
Filsafat pewayangan membuat masyarakat sebagai penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono dalam Mulyana: 2008). Keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi.
Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.
Dalam hal ini telah jelas, sebagai manusia yang berbudaya, bangsa Indonesia menganggap wayang sebagai bagian dari kehidupan yang bernilai tinggi dan luhur. Bagi kelangsungan eksistensi wayang ini, paling tidak, ada tiga hal yang perlu dicermati dalam kehidupan publik. Pertama, sikap dan pandangan hidup pragmatis telah dianut oleh sebagian besar masyarakat.
Kedua, implikasi dari realitas ini tidak hanya diterapkan dalam perilaku ekonomi dan politik, tetapi juga dalam memilih bentuk kesenian dan kebudayaan. Ketiga, akibat selanjutnya adalah budaya massa dan budaya populer menjadi kiblat mayoritas publik.


Contoh Wayang Kulit di Jaman sekarang :


Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali (id.wikipedia.org). Sedikit melihat kembali sejaranh singkat tentang wayang di Indonesia, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu “Mana yang Isi” (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)”.
b. Peranan Wayang Kulit sebagai salah satu kesenian luhur dan agung yang berbudaya di Indonesia.
Wayang diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya bangsa Indonesia pada tahun 2003. Wayang sebagai “Karya Agung Budaya Dunia” yang diakui oleh UNESCO bukan hanya wayang Jawa tapi wayang Indonesia, termasuk wayang Bali, wayang golek Sunda, wayang Lombok, dll. Tapi wayang yang lebih dikenal di Indonesia adalah wayang kulit Jawa.
Suatu gejala yang patut untuk diamati dalam masyarakat Jawa – yang punya pengaruh yang kuat dalam masyarakat Indonesia pada umumnya – adalah masih lestarinya budaya wayang kulit biarpun berbagai unsur budaya telah mempengaruhi bangsa Jawa maupun bangsa Indonesia, termasuk unsur-unsur budaya Budha, Hindhu, Islam maupun Barat.
Bukti yang nyata dari masih besarnya pengaruh budaya wayang kulit pada saat ini dengan masih banyaknya peminat pada siaran wayang kulit dilayar TV maupun pertunjukan langsung pada acara-acara tertentu.
Hal ini patut dicermati mengingat bahwa budaya wayang kulit merupakan budaya tua yang masih bertahan sampai dengan saat ini yang meminjam istilahnya Alvin Toffler berarti tetap bertahan pada masa gelombang pertama, gelombang kedua, sampai dengan gelombang ketiga yang merupakan abad informasi dengan komunikasi termasuk internet sebagai tulang punggung pendukung utamanya. Bertahannya budaya wayang kulit menjadi menarik mengingat bahwa:
1. Wayang kulit berbasis cerita Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari budaya Hindhu dari India.
2.Masyarakat Jawa mayoritas beragama Islam
3. Cerita dalam wayang kulit berbasiskan cerita tentang kerajaan yang raja dan ksatria sebagai fokus utamanya yang berarti semangat dalam ceritanya adalah tata budaya feodal.
4. Masyarakat Jawa terpelajar umumnya berbasis pendidikan Barat yang tidak mau terpengaruh budaya Barat.
. Jelas bagi masyarakat di luar Indonesia akan terkejut melihat segala kontradiksi yang mungkin timbul dalam kompleksitas masyarakat Jawa maupun Indonesia. Oleh karena itu masyarakat di luar Indonesia tidak mungkin bisa menyelami sepenuhnya manusia Jawa atupun Indonesia tanpa mempelajari lebih jauh pengaruh budaya masalalu termasuk yang sangat besar pengaruhnya seperti wayang kulit.
Dalam hal ini penulis sangat kagum kepada Prof. Danys Lombard yang dalam bukunya “Nusa Jawa – Silang Budaya” yang menyadari betul pengaruh wayang purwo/kulit – juga tulisan klasik Jawa lainnya seperti Babad Tanah Jawi, Serat Centini, dll. – dalam kehidupan masyarakat Jawa sampai dengan saat ini. Kenapa wayang masih bisa bertahan sampai saat ini?


Dari indikasi di atas jelas bahwa cerita Ramayana dan terutama Mahabarata telah diberikan kandungan lokal sedemikan rupa sehingga mengalami internalisasi dan sangat dekat dengan masyarakat Jawa, termasuk memasukkan unsure punakawan didalamnya. Bahkan di beberapa tempat di Jawa diberi nama tempat yang mengesankan seolah-olah kejadian cerita Mahabharata itu memang betul-betul terjadi ditanah Jawa. Sebagai contoh: Didaerah yang sekarang dijadikan waduk Sempor, Gombong, Jawa -Tengah, nama asli desa tersebut adalah Cicingguling. Penduduk setempat percaya tempat tersebut adalah tempat Bhima berperang melawan Duryudana dengan menghantamkan gadanya di bagian pahanya sehingga Duryudana terpaksa menyisingkan kainnya (celananya) – bahasa Jawanya menyisingkan adalah cicing – juga berguling- guling karena kesakitan, oleh karena itu desa tersebut diberi nama Cicingguling.

Begitu juga di daerah pegunungan Dieng di Jawa Tengah maupun di puncak gunung Lawu di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama-nama tempatnya diberi kesan seolah-olah tempat tersebut adalah tempat keberadaan para dewa dalam cerita Mahabharata.
Ketika agama Islam datang ke Indonesia, bahkan oleh salah satu wali sanga (sembilan wali) – Sunan Kalijaga – wayang dijadikan alat untuk penyebaran agama Islam yang memasukkan unsur Islam dalam kandungan cerita Mahabharata. Sebagai contoh: Yudhisthira sebagai raja di Amartapura mempunyai jimat (pusaka) yang bernama “Jamus Kalimasada” yang merupakan pegangan atau lambang keunggulan sebagai raja diterjemahkan sebagai “Kalimat Sahadat” yang melambangkan keunggulan Islam sebagai pegangan hidup dengan pengakuan “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.
Konon diceritakan Yudhisthira belum bisa meninggal sebelum ada yang bisa menjabarkan jimat “Kalimasada” yang kemudian dalam pertapaannya bertemu dengan Sunan Kalijaga di hutan Glagahwangi. Sunan Kalijaga melihat jamus “Kalimasada” yang ternyata selembar kulit dengan tulisan “Kalimat Sahadat”. Setelah dibacakan dan ditirukan oleh Yudhisthira yang berarti meng-Islamkannya, Yudhistira bisa menemui ajalnya sebagai seorang Muslim. (Note: apabila dipikirkan secara rasional tentu saja tidak masuk akal karena Puntadewa bagaimanapun adalah produk dari budaya Hindu berasal dari cerita fiksi epic Mahabharata. Tentu saja ini adalah kepandaian dari wali sanga untuk meng-Islamkan masyarakat yang pada saat itu masih mayoritas beragama Hindhu. Dalam hal seberapa besar Islam betul-betul secara effektif mempunyai pengaruh yang besar dalam wayang kulit masyarakat Islam masih banyak meragukan. Oleh karena itu ada sebahagian masyarakat Islam bahkan mengharamkan “wayang purwo/kulit” yang jelas nafas Hindunya atau Jawanya lebih menonjol dibandingkan dengan nafas Islamnya, lepas dari kenyataan bahwa wayang kulit masih tetap digemari masyarakat Jawa yang Islam maupun yang bukan Islam.
c. Peran Pemerintah terhadap kesenian adiluhung seperti Wayang Kulit
Keterlibatan pemerintah pusat maupun daerah dalam melestarikan seni wayang kulit, sangat penting. Karena jika pemerintah sudah mendukung, misalnya dengan menghimbau instansi pemerintah untuk mulai kembali menggelar pertunjukan wayang kulit untuk berbagai acara perayaan, maka wayang kulit tidak akan punah.
Jika pemerintah ikut cawe-cawe (ikut campur, -red), maka pertunjukan wayang kulit akan subur kembali. Karena segala sesuatu itu jika sudah mendapat campur tangan pemerintah, pasti akan berjalan dengan baik. Istilahnya, jika kepala sudah berkehendak, yang bawah tinggal mengikuti. Yang menjadi keprihatinan adalah sikap pemerintah saat ini yang seakan menutup mata dengan seni-seni tradisional Jawa pada khususnya. Pemerintah seolah tidak mau peduli dengan kebudayaan bangsa yang luhur ini.
Coba kita lihat sekarang seni ketoprak, wayang orang, topeng, termasuk wayang kulit sendiri seolah hidup enggan, mati tak mau. Dan pemerintah menutup mata terhadap hal itu. Selama ini justru dukungan terhadap wayang kulit datang dari orang-perorangan yang masih peduli dan suka dengan wayang kulit. Tak jarang orang asing yang justru peduli dan menyisihkan uangnya untuk keperluan pertunjukan wayang kulit, kita tengok saja seperti mahasiswa dari Belanda yang beramai-ramai memeriahkan Pagelaran Wayang Kulit di Amsterdam, Belanda.


 Sumber Referensi : https://cai.elearning.gunadarma.ac.id/webbased media